Sahabat Penulis Indonesia

Menelusuri Jejak Kekuasaan Maritim: Resensi The History of Sulu (1908)

Buku The History of Sulu Najeeb Saleeby

Sampul buku “The History of Sulu” karya Najeeb M. Saleeby terbitan tahun 1908

RESENSI BUKU | Buku The History of Sulu karya Najeeb M. Saleeby yang terbit pada tahun 1908 merupakan salah satu karya klasik yang hingga kini masih menjadi rujukan penting dalam memahami sejarah Kepulauan Sulu di selatan Filipina. Ditulis pada masa awal pemerintahan kolonial Amerika di Filipina, buku ini tidak hanya menghadirkan narasi sejarah, tetapi juga mencerminkan cara pandang zamannya terhadap masyarakat Muslim di wilayah tersebut.

Saleeby, seorang dokter sekaligus etnografer yang bekerja untuk pemerintah kolonial Amerika, menyusun buku ini dengan pendekatan dokumenter yang cukup rinci. Ia mengandalkan manuskrip lokal, catatan silsilah, serta sumber lisan dari para datu dan keturunan bangsawan Kesultanan Sulu. Salah satu kekuatan utama buku ini terletak pada upayanya mengarsipkan tarsila—naskah genealogis yang menjadi fondasi penting dalam memahami struktur kekuasaan dan legitimasi politik di Sulu.

Dalam buku ini, pembaca diajak menelusuri asal-usul Kesultanan Sulu, mulai dari kedatangan Sharif ul-Hashim pada abad ke-15 hingga perkembangan kekuasaan sultan-sultan berikutnya. Saleeby menggambarkan bagaimana kesultanan ini tumbuh menjadi kekuatan maritim yang berpengaruh, mengendalikan jalur perdagangan dan membangun jaringan politik yang luas di kawasan Asia Tenggara.

Namun, The History of Sulu tidak sekadar menyajikan kronologi peristiwa. Buku ini juga memberikan gambaran tentang sistem sosial, hukum adat, serta praktik keagamaan masyarakat Sulu. Saleeby mencoba menjelaskan bagaimana Islam berakar dan berkembang di wilayah ini, serta bagaimana nilai-nilai lokal berinteraksi dengan ajaran agama dalam membentuk identitas masyarakat.

Meski demikian, sebagai karya yang lahir dalam konteks kolonial, buku ini tidak lepas dari bias. Perspektif Saleeby sering kali dipengaruhi oleh kepentingan administratif dan politik pemerintah Amerika saat itu. Dalam beberapa bagian, narasi yang disajikan cenderung menempatkan masyarakat Sulu sebagai objek studi, bukan sebagai subjek yang memiliki suara sendiri. Hal ini penting disadari oleh pembaca modern agar tidak menerima seluruh isi buku secara mentah.

Kendati demikian, nilai historis buku ini tetap tinggi. Banyak data yang dikumpulkan Saleeby mungkin tidak lagi dapat ditemukan dalam bentuk aslinya saat ini. Oleh karena itu, The History of Sulu menjadi semacam jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan penelitian kontemporer. Para sejarawan modern sering menggunakan karya ini sebagai titik awal untuk menggali lebih dalam sejarah Sulu dengan pendekatan yang lebih kritis.

Dari sisi gaya penulisan, Saleeby cenderung formal dan deskriptif, khas karya ilmiah awal abad ke-20. Bagi pembaca umum, beberapa bagian mungkin terasa padat dan teknis. Namun bagi mereka yang tertarik pada sejarah, antropologi, atau studi kawasan Asia Tenggara, buku ini menawarkan kekayaan informasi yang sulit ditandingi.

Pada akhirnya, The History of Sulu bukan hanya sebuah buku sejarah, tetapi juga dokumen penting yang merekam pertemuan antara tradisi lokal dan kekuatan kolonial. Ia mengajak pembaca untuk melihat Sulu bukan sekadar sebagai wilayah geografis, melainkan sebagai ruang peradaban yang pernah memainkan peran signifikan dalam dinamika Nusantara.

Membaca karya ini hari ini berarti membuka kembali lapisan-lapisan sejarah yang kompleks—tentang kekuasaan, identitas, dan bagaimana cerita tentang suatu bangsa ditulis, disimpan, dan diwariskan. (ath)

 

Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
https://whatsapp.com/channel/0029VaFToFG8kyyGpriTkR0G

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *