Sahabat Penulis Indonesia

Resensi Buku Menuju Relung Haramain: Sisi Kemanusiaan dalam Catatan Jurnalistik Haji

Sampul buku Menuju Relung Haramain karya Zaki AW yang mendokumentasikan catatan jurnalistik haji secara emosional

Sampul buku “Menuju Relung Haramain”, sebuah karya jurnalistik yang merekam sisi emosional dan kemanusiaan dari perjalanan haji

Judul: Menuju Relung Haramain: Sebuah Catatan Jurnalistik Haji
Penulis: Zaki AW
Penerbit: Penerbit Adab
Cetakan: Pertama, November 2024
Tebal: 128 halaman

RESENSI BUKU | Di tengah derasnya arus buku-buku perjalanan haji yang lebih banyak menghadirkan panduan teknis maupun kisah spiritual personal, Menuju Relung Haramain: Sebuah Catatan Jurnalistik Haji karya Zaki AW menawarkan sudut pandang yang berbeda. Buku ini memadukan kepekaan seorang jurnalis dengan kedalaman refleksi seorang tamu Allah. Hasilnya adalah narasi yang tidak hanya mendokumentasikan perjalanan fisik menuju Tanah Suci, tetapi juga merekam dinamika batin, suasana sosial, dan berbagai peristiwa yang menyertai ibadah haji secara hidup dan komunikatif.

Ditulis setelah penulis menunaikan ibadah haji pada musim haji 2024, buku ini lahir dari catatan-catatan lapangan yang kemudian disusun menjadi karya utuh. Berbekal pengalaman langsung, Zaki AW menghadirkan cerita yang mengalir layaknya laporan feature, sehingga pembaca diajak ikut menyusuri setiap tahapan perjalanan tanpa merasa sedang membaca buku panduan ibadah yang kaku.

Kekuatan utama buku ini terletak pada gaya bertuturnya. Sebagai seorang jurnalis, Zaki AW terbiasa menangkap detail-detail kecil yang sering luput dari perhatian. Ia tidak hanya menggambarkan kemegahan Makkah dan Madinah, tetapi juga menghadirkan sisi-sisi kemanusiaan para jamaah, dinamika kehidupan di pemondokan, suasana di bandara, perjalanan menuju Arafah, hingga momen-momen emosional ketika pertama kali memandang Kakbah.

Pendekatan jurnalistik tersebut membuat buku ini terasa dekat dengan pembaca. Setiap kisah disampaikan secara ringkas, padat, namun tetap menyisakan ruang refleksi. Tidak ada kesan menggurui. Penulis memilih membiarkan pengalaman berbicara sendiri sehingga pembaca dapat menarik makna sesuai pengalaman spiritual masing-masing.

Sebagaimana judulnya, “relung” menjadi metafora yang menarik. Haramain bukan hanya diposisikan sebagai ruang geografis yang dikunjungi umat Islam, melainkan ruang batin tempat seseorang berdialog dengan dirinya sendiri. Dalam perjalanan haji, penulis memperlihatkan bahwa ibadah bukan sekadar menyelesaikan rukun dan wajib haji, tetapi juga proses membangun kesabaran, keikhlasan, serta kemampuan menerima berbagai ujian selama berada di Tanah Suci.

Keunggulan lain buku ini adalah keberhasilannya menggabungkan fakta dan emosi. Pembaca memperoleh informasi mengenai lokasi-lokasi penting, pengalaman lapangan, hingga berbagai fenomena yang ditemui selama penyelenggaraan ibadah haji. Namun, semua itu tidak disampaikan dalam bentuk laporan yang kering, melainkan dibingkai melalui narasi yang hangat dan mudah dipahami.

Buku ini juga memperlihatkan bahwa liputan haji tidak selalu harus berbicara mengenai angka jamaah, kebijakan pemerintah, atau persoalan teknis penyelenggaraan. Ada ruang yang sangat luas bagi jurnalisme human interest untuk merekam perjalanan spiritual manusia. Pendekatan seperti ini sejalan dengan perkembangan jurnalisme haji yang menempatkan pengalaman jamaah sebagai pusat narasi, bukan sekadar pelengkap berita.

Dari sisi penyajian, struktur buku disusun dalam episode-episode pendek yang memudahkan pembaca menikmati isi tanpa harus membacanya sekaligus. Berdasarkan informasi penerbitan, buku ini memuat beragam kisah, mulai dari pembekalan sebelum keberangkatan, pengalaman di Masjidil Haram, cobaan selama berhaji, kisah-kisah menarik di berbagai lokasi bersejarah, hingga tips praktis bagi calon jamaah haji maupun umrah.

Bahasa yang digunakan relatif sederhana dan komunikatif. Pilihan diksi tidak berlebihan sehingga mudah diikuti oleh pembaca dari berbagai latar belakang. Hal ini menjadi nilai tambah karena buku perjalanan religi sering kali terjebak dalam bahasa yang terlalu retoris atau sangat teknis. Zaki AW berhasil menjaga keseimbangan antara deskripsi jurnalistik dan kontemplasi spiritual.

Meski demikian, sebagai sebuah catatan jurnalistik, buku ini memang lebih menonjolkan pengalaman personal dibandingkan analisis akademik mengenai penyelenggaraan ibadah haji. Pembaca yang mengharapkan pembahasan mendalam mengenai sejarah, fikih, atau kebijakan haji mungkin tidak akan menemukannya secara komprehensif. Namun, justru di situlah identitas buku ini: ia memilih menjadi saksi perjalanan, bukan menjadi buku referensi hukum ibadah.

Kehadiran sejumlah tips praktis di bagian akhir juga memberikan nilai tambah. Pembaca yang belum pernah menunaikan haji atau umrah memperoleh gambaran mengenai persiapan yang diperlukan, sedangkan mereka yang pernah berangkat akan menemukan kembali kenangan-kenangan yang mungkin telah lama tersimpan.

Pada akhirnya, Menuju Relung Haramain: Sebuah Catatan Jurnalistik Haji bukan hanya buku tentang perjalanan menuju Makkah dan Madinah. Ia adalah dokumentasi tentang bagaimana seorang jurnalis memaknai ibadah melalui observasi, kepekaan sosial, dan refleksi spiritual. Di tengah banyaknya buku motivasi religi yang bersifat normatif, karya ini tampil sebagai catatan perjalanan yang jujur, hangat, dan membumi.

Buku ini layak dibaca oleh calon jamaah haji dan umrah, pegiat jurnalistik, penulis perjalanan, akademisi komunikasi, maupun siapa saja yang ingin memahami bahwa setiap langkah di Tanah Suci menyimpan cerita yang layak ditulis. Zaki AW membuktikan bahwa jurnalisme tidak hanya bertugas merekam fakta, tetapi juga mampu menangkap denyut kemanusiaan yang menjadikan sebuah perjalanan ibadah terasa hidup dan bermakna. (ath)

 

Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
Channel Whatsapp Deal Channel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Are you human? Please solve:Captcha